oleh

Membangun Perilaku Sehat dengan Menjaga Kesehatan Gigi

*Oleh: Pascalina Delavita Jehada

Derajat kesehatan gigi dan mulut sangat ditentukan dengan keadaan gigi dan rongga mulut yang sehat.

Data terakhir tentang kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia, yang mengalami penyakit gusi sekitar 60-80 persen, gigi berlubang sebesar 60-90 persen, lebih banyak dokter gigi melakukan pencabutan gigi, dibandingkan melakukan penambalan gigi berlubang.

Perilaku masyarakat dalam menyikat gigi kurang baik sekitar 61 persen. Perilaku berobat gigi hanya sekitar 5,5 persen, itupun hanya untuk melakukan pencabutan gigi karena gigi berlubang.

Perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang baik akan sangat berperan penting dalam menentukan derajat kesehatan dari masing masing individu.

Oleh karena itu, perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang kurang baik harus diubah. Lingkungan sangat berperan dalam pembentukan perilaku seseorang, di samping faktor bawaan (Budiharto, 2013).

Di sini peran orang tua sangat menentukan dalam melakukan perubahan perilaku dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak. Pengetahuan dan pendidikan yang diberikan orang tua sangat membantu pembentukan perilaku anak.

Jadi, perilaku pencegahan penyakit pada gigi masih belum dilakukan oleh masyarakat, seperti di wilayah kita sekarang, mungkin masih terdapat sekelompok warga yang memiliki sikap tidak memperdulikan penampilan dan kebersihan diri serta lingkungan sekitarnya.

Buktinya, masih banyak anak-anak bahkan dewasa yang mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung gula seperti, eskrim,coklat dan makanan manis lainnya yang mengandung gula serta minuman beralkohol yang dapat menyebabkan sakit gigi.

Untuk itulah peranan seorang dokter gigi sangat diperlukan. Pencegahan penyakit gigi dan mulut sangat sederhana, yaitu dengan cara menyikat gigi dengan teknik baik dan benar. Adapun frekuensinya adalah minimal 2 kali sehari, yaitu pagi setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur.

Perilaku menjaga kesehatan gigi harus ditanamkan sejak dini. Program kesehatan yang mendukung ini ada di ujung tombak pelayanan kesehatan yaitu Puskesmas dengan program usaha kesehatan gigi anak sekolah (UKGS) yang ditanggung jawabi oleh dokter gigi puskesmas.

Program UKGS ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi mulut anak murid, meningkatkan pengetahuan kesadaran bagi perilaku anak murid dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut, meningkatkan peran guru, dokter kecil, serta orang tua dalam upaya penyuluhan dan pencegahan dan memenuhinya kebutuhan pelayanan gigi dan mulut bagi murid yang memerlukan.

Kegiatannya adalah menyikat gigi dengan teratur di sekolah, penyuluhan kesehatan gigi dan mulut oleh guru atau dokter gigi puskesmas, pemeriksaaan atau pengobatan gigi yang sakit oleh dokter gigi, pencabutan gigi susu yang goyang, dan penambalan gigi.

Jika ada yang tidak bisa dilakukan di sekolah, dilakukan rujukan ke puskesmas atau rumah sakit.

Mengapa UKGS harus ditujukan kepada anak usia sekolah dasar? Karena, pada anak usia SD (6-12 tahun) adalah masa emas pertumbuhan gigi, atau yang disebut dengan masa gigi bercampur, periode pergantian gigi susu menjadi gigi tetap.

Jika pada saat anak umur 6 tahun, gigi tetapnya baru tumbuh 2 atau 4 buah, maka pada saat anak tamat SD, umur 12 tahun pada rongga mulutnya sudah menjadi gigi tetap seluruhnya.

Pada saat periode tersebutlah, peranan dokter gigi sangat diperlukan untuk memantau perkembangan kesehatan gigi dan mulut anak anak usia emas kesehatan gigi dan mulut ini. Jika program UKGS ini berjalan dengan baik di sekolah, maka besar sekali pengaruhnya terhadap peningkatan kesehatan gigi anak murid. Harapannya pada saat anak berusia 12 tahun.

Tidak ada lagi gigi dicabut karena karies (gigi berlubang), tidak ada lagi gigi proses karies primer pada gigi tetap, gigi berlubang atau ditambal tidak lebih dari tiga buah, (gigi tetap atau permanen), penyakit gusi berdarah menurun 50 persen dan gigi berdesakan menurun 50 persen.

Sekarang, program terbaru yang sangat erat kaitannya dengan kegiatan UKGS ini yang sedang digalakkan Kementerian Kesehatan RI adalah yang disebut dengan Fit for School. Apa itu Fiit for School? Fit for school terdiri dari tiga intervensi: cuci tangan setiap hari dengan sabun, menyikat gigi setiap hari dengan pasta gigi fluoride dan minum obat cacing dua kali setahun. Ini semua dilakukan di lembaga-lembaga publik seperti sekolah umum dan tempat penitipan anak.

Menurut saya, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan menyikat gigi dengan pasta gigi berfluoride sesudah makan di sekolah tidak memerlukan biaya yang mahal. Biaya satu siswa pertahun hanya sekitar Rp5 ribu – Rp10 ribu. Sangat murah dan tidak membebankan orang tua siswa.

Beberapa Penelitian yang dilakukan, bahwa jika Fit for School ini dijalankan dengan baik dan benar, maka mengurangi karies gigi 40-56 persen. Pendekatan pelayanan dokter gigi ke kelompo-kelompok tertentu, seperti sekolah, keluarga, lembaga-lembaga dan langsung turun ke masyarakat dapat mempercepat peningkatan derajat kesehatan gigi mulut masyarakat.

Dengan adanya dokter gigi yang selalu mengedepankan prinsip pencegahan penyakit gigi pada masyarakat Indonesia, kondisi kesehatan gigi mulut semakin membaik dan meningkat.

*Mahasiswa Semester ll Prodi keperawatan
Unika St.Paulus Ruteng

Komentar